5 Film Sci-Fi Terbaru yang Tampilkan Unsur Tradisional dalam Setting Futuristik
Rekomendasi Film Sci-Fi Terbaru - Dalam beberapa tahun terakhir, film bergenre science fiction (sci-fi) mengalami evolusi signifikan. Tak hanya menawarkan narasi futuristik dan teknologi canggih, genre ini mulai mengeksplorasi kedalaman budaya tradisional sebagai fondasi identitas dan nilai dalam dunia masa depan. Fenomena ini memperlihatkan respons industri film terhadap kebutuhan penonton akan kisah yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menyentuh akar budaya dan spiritual.
Menurut laporan Statista tahun 2023, pendapatan box office global dari film sci-fi mencapai USD 47 miliar, meningkat sekitar 15% dari tahun sebelumnya. Salah satu penyebab utamanya adalah ketertarikan audiens global terhadap tema lintas budaya dan integrasi unsur lokal ke dalam dunia futuristik.
Di tengah gempuran narasi dystopia dan teknologi tanpa batas, film-film sci-fi terbaru menghadirkan kisah yang memadukan nilai-nilai tradisional, spiritualitas, dan budaya lokal dengan latar dunia futuristik. Artikel ini menyajikan lima film terbaru yang berhasil menampilkan elemen tersebut secara kuat dan estetis.
1. After Yang (2022)
Disutradarai oleh Kogonada, After Yang adalah adaptasi dari cerpen "Saying Goodbye to Yang" karya Alexander Weinstein. Film ini berlatar masa depan di mana keluarga dapat membeli android sebagai anggota rumah tangga. Fokus cerita adalah keluarga yang kehilangan android bernama Yang, yang dirancang memiliki latar belakang budaya Tionghoa.
Menariknya, unsur budaya Timur ditampilkan bukan sekadar kosmetik, melainkan membentuk karakter dan nilai dalam cerita. Dari ritual minum teh, penataan rumah minimalis beraroma Zen, hingga filosofi tentang kehidupan dan kematian yang dipengaruhi ajaran Taoisme dan Konfusianisme, semuanya hadir secara organik. Film ini menunjukkan bagaimana teknologi bisa menjadi perpanjangan dari nilai budaya, bukan penggantinya.
2. JUNG_E (2023)
Film Korea Selatan ini merupakan karya terakhir sutradara Yeon Sang-ho yang dikenal melalui Train to Busan. JUNG_E berlatar tahun 2194 di dunia yang dilanda perubahan iklim ekstrem dan perang antar koloni manusia. Seorang ilmuwan perempuan ditugaskan menyalin otak ibunya—mantan tentara legendaris—ke dalam sistem AI militer.
Yang membuat JUNG_E menonjol adalah penggambaran nilai-nilai tradisional Korea di tengah lanskap digitalisasi militer. Hubungan ibu-anak menjadi inti cerita, dan penggunaan motif hanbok futuristik serta struktur bangunan mirip kuil Buddha menjadi simbol bagaimana budaya bertahan di dunia penuh konflik dan kecanggihan.
3. The Creator (2023)
Film ini digarap oleh Gareth Edwards dan menampilkan John David Washington sebagai protagonis. Berlatar masa depan, The Creator menceritakan konflik antara manusia dan AI setelah ledakan nuklir menghancurkan Los Angeles. Menariknya, film ini menggunakan banyak latar dari negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand, dan Nepal.
Elemen tradisional tampak dari bagaimana komunitas lokal digambarkan hidup berdampingan dengan entitas AI dalam konteks sosial, religius, dan spiritual. Dari upacara persembahyangan bergaya Bali hingga sistem pertanian berteras yang tetap lestari, film ini memvisualisasikan dunia masa depan yang tidak melupakan akar budaya. Desain kota yang futuristik namun tetap mempertahankan elemen arsitektur lokal menjadi kekuatan visualnya.
4. Yohji 3000 (2024)
Yohji 3000 adalah film indie Jepang yang dirilis perdana di Tokyo Filmex 2024. Disutradarai oleh Hiroshi Yamada, film ini mengangkat kisah seorang samurai digital bernama Yohji di dunia yang dikendalikan oleh sistem AI totaliter. Yohji memilih untuk tetap berpegang pada kode etik Bushido dan ritual Zen sebagai bentuk perlawanan spiritual.
Melalui pertarungan yang menggunakan pedang dengan sistem AI berbasis Shinto, film ini mengangkat tema dualisme antara teknologi dan jiwa manusia. Bahkan dojo tempat latihan Yohji didesain menyerupai kuil Shingon yang telah dimodifikasi secara digital. Film ini menjadi refleksi kontemporer atas dilema etis dan spiritual yang dihadapi manusia modern.
5. The Oracle of Andalas (2025)
Film ini adalah proyek kerja sama antara rumah produksi dari Indonesia, Jerman, dan Singapura. Meski baru akan rilis global pada pertengahan 2025, film ini sudah menarik perhatian sejak pemutaran terbatas di Festival Film Berlin. The Oracle of Andalas berlatar Sumatera Barat tahun 2450, saat bumi terancam invasi oleh pasukan AI dari luar angkasa.
Yang menjadikan film ini luar biasa adalah caranya mengangkat kearifan lokal Minangkabau sebagai fondasi perlawanan. Filosofi “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” dijadikan prinsip sistem pertahanan, dan teknologi dikembangkan dari kearifan alam serta kosmologi lokal. Rumah Gadang futuristik berfungsi sebagai pusat strategi militer, dan karakter utama, Maranti, adalah perempuan ahli warisan spiritual yang menjadi simbol kekuatan tradisi dalam era digital.
Film ini diperkirakan akan menjadi pionir dalam sinema Asia Tenggara karena keberhasilannya menyatukan budaya lokal dengan narasi global yang relevan.
Refleksi: Tradisi Sebagai Akar Narasi Futuristik
Kehadiran unsur tradisional dalam film sci-fi bukan sekadar gimmick atau eksotisme visual. Justru, elemen ini menjadi jembatan antara masa lalu yang memberi identitas, dan masa depan yang penuh kemungkinan. Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, Anda tetap merindukan kisah yang menyentuh akar budaya, nilai spiritual, dan hubungan antarmanusia.
Kelima film di atas menawarkan pengalaman menonton yang kompleks dan menyentuh. Mereka membuktikan bahwa teknologi bukan musuh nilai-nilai tradisi, tetapi bisa menjadi alat untuk mengabadikannya dalam dimensi baru.
Posting Komentar untuk "5 Film Sci-Fi Terbaru yang Tampilkan Unsur Tradisional dalam Setting Futuristik"